WEJANGAN

Selasa, 28 Desember 2010

Sejarah Kabupaten Mimika


     
   
AWALNYA Mimika merupakan sebuah kecamatan dari wilayah administrasi Kabupaten Fakfak, berdasarkan peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 1996, Kecamatan Mimika ditetapkan sebagai Kabupaten Administratif, kemudian berdasarkan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999, Mimika menjadi Kabupaten Otonom.

      Kabupaten Mimika adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Timika, Di kabupaten ini terdapat Kecamatan Tembagapura di mana tambang emas terbesar di dunia milik PT. Freeport Indonesia berada. Terdapat sebuah bandar udara nasional di kabupaten ini, yaitu Bandara Moses Kilangin yang terletak di Timika.

     Kabupaten Mimika memiliki luas sekitar 20.039 km² atau 4,75% dari luas wilayah Provinsi Papua dengan topografi dataran tinggi dan rendah.
     Kabupaten Mimika sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Paniani dan Puncak Jaya, sebelah Selatan Laut Arafuru, sebelah Timur Kabupaten Merauke dan sebelah Barat Kabupaten Fakfak.
     Mimika didiami oleh 7 suku asli, dua suku besar yaitu Amungme yang mendiami wilayah pegunungan dan Kamoro di wilayah pantai. Selain kedua suku tersebut masih ada lima suku kekerabatan yaitu, Dani/Lani, Damal, Mee, Nduga dan Moni.
       Kabupaten Mimika saat ini memiliki 12 Kecamatan yaitu Kecamatan Mimika Timur, Mimika Timur Tengah, Mimika Timur Jauh, Mimika Barat, Mimika Barat Tengah, Mimika Barat Jauh, Mimika Baru, Kuala Kencana, Tembagapura, Agimuga, Jila dan Jita.
        Di mimimika terdapat satu wilayah yang selalu terjadi perang suku, yaitu kuamki Lama, itu menjadi momok mimika bahwa mimika agaknya kurang aman, (angapan pendatang yang baru masuk timika) meskipun demikian mimika masih di kategorikan aman, karena banyaknya angota keamanan dari personil TNI dan Polri yang senantiasa menjaga keamanan kota timika.

Sekilas Tentang  PT. Freeport Indonesia Timika  

Pada 1936 Ekspedisi Colijn, termasuk Jean-Jacques Dozy, merupakan kelompok luar pertama yang mencapai gunung gletser Jayawijaya dan menemukan Ertsberg. 1960 Ekspedisi Freeport dipimpin Forbes Wilson & Del Flint menjelajah Ertsberg. 1963 Serah terima Nederlands Nieuw-Guinea dari pihak Belanda ke PBB, yang pada gilirannya mengalihkannya ke Indonesia.Rencana proyek tambang ditangguhkan akibat kebijaksanaan rezim Soekarno. 1966 Peralihan kekuasaan penuh dari Presiden Soekarno kepada Jenderal Soeharto. Pembentukan pemerintahan baru yang mendorong investasi sektor swasta serta langkah-langkah reformasi ekonomi lainnya. Freeport diundang ke Jakarta untuk pembicaraan awal mengenai kontrak tambang di Ertsberg. 

       1967 Penandatanganan Kontrak Karya untuk masa 30 tahun, yang menjadikan PTFI sebagai kontraktor eksklusif tambang Ertsberg di atas wilayah 10 km persegi. 1969 Negosiasi kontrak penjualan jangka panjang dan perjanjian proyek pendanaan. Studi kelayakan selesai dan disetujui. 1970 Pembangunan proyek berskala penuh dimulai. 1972 Uji coba pengapalan pertama ekspor konsentrat tembaga dari Ertsberg. 1973 Peluncuran proyek, dan lokasi kota dinamakan Tembagapura. Proyek Ertsberg mulai beroperasi. 1975 Kegiatan eksplorasi dimulai atas cadangan bawah tanah tembaga pada Gunung Bijih Timur (GBT). 1976 Pemerintah Indonesia membeli 8,5% saham PTFI dari Freeport Minerals Company dan investor lain. 1978 Studi kelayakan proyek tambang bawah tanah GBT disetujui. 1981 Tambang bawah tanah GBT mulai beroperasi. 1985 Tambahan cadangan tembaga bawah tanah ditemukan di bawah tambang bawah tanah GBT. 

       1987 Setelah mengalami beberapa kali pengembangan produksi rata-rata meningkat menjadi 16.400 ton/hari dua kali lipat dari rencana awal pada tahun 1967 cadangan total menjadi 100 juta ton metrik. 1988 Cadangan Grasberg ditemukan, melipatgandakan cadangan total menjadi 200 juta ton metrik. 1989 Perluasan hingga 32.000 ton/hari disetujui, dan kajian untuk perluasan hingga 52.000 selesai. Pemerintah Indonesia mengeluarkan izin untuk melakukan eksplorasi tambahan di atas 61.000 hektar. 1990 Pekerjaan konstruksi berlanjut atas perluasan hingga 52.000 ton/hari. 

         1991 Penandatanganan Kontrak Karya baru dengan masa berlaku 30 tahun berikut dua kali perpanjangan 10 tahun ditandatangani bersama Pemerintah Indonesia.Hingga akhir tahun, total cadangan berjumlah hampir 770 juta ton metrik. 1992 Kajian perluasan hingga 90.000 ton/hari disetujui. Sementara produksi rata-rata sebesar 58.000 ton/hari, pekerjaan berlanjut untuk meningkatkan kapasitas hingga 66.000 ton/hari. 

     1993 PTFI melakukan privatisasi atas beberapa aset non-tambang tertentu. Peningkatan hingga 115.000 ton/hari disetujui. FCX membeli RTM (pabrik peleburan di Spanyol).Hingga akhir tahun, total cadangan mencapai hampir 1,1 miliar ton metrik. 1994 Studi Dampak Lingkungan Hidup 160.000 ton/hari PTFI disetujui.Pengumuman tentang usaha patungan pabrik peleburan PT Smelting di Gresik. 

        1995 PTFI menandatangani kerjasama dengan Rio Tinto. Kota baru di dataran rendah, Kuala Kencana, diresmikan. Bersamaan dengan Konsentrator #3, peningkatan hingga 125.000 ton/hari yang melebihi rencana selesai sebelum waktunya dan di bawah anggaran. Kegiatan eksplorasi berlanjut yang bersebelahan dengan kegiatan operasional mengidentifikasi daerah-daerah baru yang memiliki potensi mineralisasi yang signifikan, yakni “Segitiga Emas”.Penambahan tambang bawah tanah Grasberg meningkatkan cadangan menjadi 1,9 miliar ton metrik hingga akhir tahun. 

       1996 Upaya eksplorasi memberi hasil sangat baik dengan penambahan cadangan Kucing Liar; hingga akhir tahun, total cadangan mencapai lebih 2 miliar ton metrik. PTFI mulai ikut serta di dalam Rencana Pengembangan Timika Terpadu dari Pemerintah, dengan sumbangan satu persen dari pendapatan setiap tahun (dana 1%). PTFI melakukan audit sosial dan lingkungan hidup secara sukarela dengan hasil yang positif. Komitmen membangun sarana-sarana bagi Pemerintah Indonesia menghasilkan peningkatan pengamanan bagi personil dan kegiatan operasional.Perluasan Konsentrator # 4 disetujui. 

        1997 Audit Sosial oleh Labat Anderson diserahkan kepada PTFI dan Kementerian Lingkungan Hidup, dan revisi dilakukan terhadap penyelenggaraan FFIJD agar lebih tanggap terhadap kebutuhan pembangunan di desa-desa. PTFI mendapatkan izin perluasan hingga 300.000 ton/hari. Pekerjaan perluasan Konsentrator # 4 berlanjut.Tambahan cadangan hingga akhir tahun terdiri dari 2,6x produksi tembaga dan 3x produksi emas untuk tahun 1997, terutama tambahan dari Kucing Liar. 

       1998 PT Smelting yang 25% kepemilikannya dikuasai PTFI mulai beroperasi di Jawa Timur. PTFI memasok seluruh kebutuhan konsentratnya.Perluasan Konsentrator #4 selesai dan mulai beroperasi. PTFI melakukan program operasional “Hunker Down and Go” (Bertahan dan Maju) di tengah iklim harga komoditas rendah, dengan mencapai rata-rata lebih 196.000 ton/hari, dan produksi logam mencapai rekor, serta biaya produksi tunai neto yang rendah. Tambahan cadangan yang cukup signifikan berasal dari DOZ dan Kucing Liar meningkatkan cadangan total menjadi hampir 2,5 miliar ton metrik. 

      1999 Audit Lingkungan Hidup oleh Montgomery-Watson selesai, yang menemukan bahwa sistem pengelolaan lingkungan hidup yang dikembangkan dan dilaksanakan oleh PTFI merupakan “teladan dan contoh bagi industri pertambangan.”Kegiatan operasional mencetak rekor produksi logam serta biaya tunai satuan. Proyek bawah tanah DOZ dengan kapasitas 25,000 ton/hari disetujui dan diluncurkan. 

       2000 MoU tentang sumber daya sosial ekonomi, HAM, hak ulayat, dan hak lingkungan hidup diumumkan oleh pimpinan LEMASA (lembaga masyarakat suku Amungme), LEMASKO (lembaga masyarakat suku Kamoro) dan PTFI. Pembangunan tambang bawah tanah DOZ dimulai.Produksi tembaga mencapai rekor dengan lebih 1,64 miliar pon tembaga. 

        2001 FCX dan PTFI menandatangani perjanjian sukarela khusus Dana Perwalian bersama warga Amungme dan Kamoro yang tinggal dekat wilayah kegiatan tambang, dengan menyumbang jumlah awal sebesar $2,5 juta AS, dan selanjutnya $1 juta AS setiap tahun. Tingkat produksi pabrik pengolahan (mill) mencapai rekor dengan hampir 238.000 ton/hari serta produksi emas rata-rata setiap tahun mencapai hampir 3,5 juta ons. 

         2002 Produksi tembaga mencapai rekor dengan 1,8 miliar pon tembaga.Tambang bawah tanah DOZ mencapai produksi berkelanjutan sebesar 25.000 ton/hari. PTFI menyerahkan kepada Pemerintah Indonesia hasil kajian Penilaian Resiko Lingkungan Hidup dari sistem pengelolaan tailing yang menetapkan bahwa dampak lingkungan hidup sesuai dengan yang diperkirakan pada AMDAL 1997, dan disetujui oleh Pemerintah.
        
      2003 Peningkatan DOZ hingga 35.000 ton/hari disetujui dan selesai. Peristiwa longsor di tambang terbuka Grasberg berdampak terhadap kegiatan Kuartal 4. Biaya produksi tunai netto rata-rata mencatat rekor kredit sebesar 2¢ per pon tembaga.2004 2004 Kegiatan pembersihan di tambang terbuka Grasberg selesai, dan kegiatan operasional dilanjutkan dengan penambangan pada bagian berkadar tinggi tambang Grasberg. DOZ beroperasi pada tingkat 43.600 ton/hari, melebihi kapasitas rancangan sebesar 35.000 ton/hari; peningkatan hingga 50.000 ton/hari disetujui.2005 2005 Hasil berkadar tinggi dari Grasberg menyebabkan jumlah produksi yang hampir mencapai rekor sebesar 1,6 miliar pon tembaga dan 3,4 juta ons emas. DOZ tetap beroperasi pada tingkat 42.000 ton/hari, melebihi kapasitas rancang. Pengembangan cadangan Big Gossan disetujui.

      Audit lingkungan hidup eksternal tiga tahunan yang dilakukan Montgomery-Watson-Harza menyimpulkan bahwa praktek pengelolaan lingkungan hidup perusahaan masih berdasarkan (dan dalam berbagai hal mewakili) praktek pengelolaan terbaik untuk industri pertambangan tembaga dan emas secara internasional. 


Penyakit Mematikan Di Mimika 
       Timika dan Wamena adalah dua kota yang dilihat dari sudut pandang apa pun memiliki status sama: a must visit city. Kota yang wajib dikunjungi karena keduanya sama-sama menarik untuk diamati. Baik dari segi ekonomi, budaya, maupun (maaf) penyebaran HIV/AIDS. Tentang yang terakhir itu, inilah pengamatan wartawan Jawa PosNANY WIJAYA. TAK bisa dibantah bahwa makin tahun kehidupan ekonomi di Timika semakin baik. Itu bisa dilihat dari kian banyaknya jumlah pendatang yang mendulang kehidupan di ibu kota Kabupaten Mimika itu.
          Sebagaimana kota lain yang ekonomi daerahnya berkembang pesat, Timika pun mengalami ekses yang sama: Meningkatnya jumlah pekerja seksual (PSK) pendatang. Seperti semut, mereka datang ke tempat di mana ada gula. PSK di Timika dan daerah-daerah lain di Papua berbeda dengan rekan-rekan mereka di Jawa dan daerah lain di luar Papua. Mayoritas PSK di sana menjalankan strategi jemput bola. Jadi, konsumen tidak perlu repot-repot mencari mereka.
            Dengan sedikit tambahan honor, PSK-PSK itu dengan senang hati mendatangi konsumennya Yang saya tahu, tidak sedikit PSK yang mendatangi daerah-daerah penambangan emas liar pada sore hari, menjelang para penambang pulang. Atau, setelah para penambang liar itu menukarkan butiran emas hasil dulangannya ke pengepul.
      Namun, kabarnya, tidak sedikit penambang yang menemui PSK langganannya sebelum setor ke pengepul. Lantas, dengan apa mereka membayar para penjaja cinta itu? “Ya, dibayar dengan butiran emas,” jelas Oktovianus, direktur harian Radar Timika (Jawa Pos Group) yang sudah cukup lama mengamati “gaya hidup” itu.
       Sangat disayangkan sebenarnya kalau ada penambang liar yang menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang dengan PSK. Sebab, untuk mendapatkan butiran-butiran emas itu, para penambang liar harus menempuh risiko yang tidak kecil. Misalnya, terbawa arus Sungai Ajkwa yang sulit diduga. Atau, terkubur hidup-hidup oleh tanah longsor, seperti yang pernah terjadi di Wanagon, lokasi penambangan liar di dekat Tembagapura. Belum lagi gigitan nyamuk malaria yang terkenal keganasannya. Risiko paling ringan adalah kulitnya rusak, mengelupas, atau dimakan kutu karena terlalu lama berendam di air yang tidak bersih.
       Seperti diketahui, malaria di Papua sangat terkenal keganasannya. Penyakit ini tak hanya membuat tubuh menggigil kuat, tetapi juga menghancurkan limpa dan bahkan otak. Karena itu, kalau Anda berkunjung ke Papua, jangan lupa membawa losion antinyamuk dan meminum atau suntik obat pencegah malaria sejak sebelum berangkat. Kalau lupa membawa losion antinyamuk, boleh juga Anda mencoba repellent (cairan antinyamuk) tradisional: minyak babi yang baunya pasti tak sama dengan yang terbuat dari bunga lavender.
       Tetapi, rasanya juga tidak mungkin para penambang liar itu tidak menyadari risiko berat yang mereka hadapi saat mendulang. Namun, faktanya, prostitusi di Timika berkembang dengan sangat cepat. Sebagai dampaknya, angka penderita HIV/AIDS makin tahun makin meningkat. Begitu cepatnya perkembangan penyakit mematikan itu, sehingga pada 2007, Timika menggantikan Merauke sebagai kota dengan angka penderita HIV/AIDS tertinggi di Papua.
         Pada akhir triwulan ke empat 2007, jumlah penderita HIV/AIDS di seluruh Papua mencapai 3.629 orang (tertinggi di Indonesia). Sebanyak 1.478 penderita ada di Kabupaten Mimika, 969 di Merauke. Angka di Kabupaten Mimika itu pada September 2008 lalu sudah melambung menjadi 1.745 orang. Ini data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika. Tak dijelaskan jumlah pastinya, tetapi disebutkan bahwa yang terbanyak ada di Timika. Dan, Desember lalu, angka itu sudah naik lagi menjadi 1.798 penderita. Berarti cepat sekali pertumbuhannya. Padahal 10 tahun lalu, atau pada 1998, jumlah penderita HIV/AIDS di Mimika hanya 13 orang.
           Melihat grafik pertumbuhannya, terlihat jelas bahwa pertumbuhan HIV/AIDS di Mimika melaju cepat seiring dengan melambungnya harga emas di pasaran. Coba perhatikan: Pada 2002, penderitanya hanya 111 orang/tahun. Tetapi, pada tahun berikutnya bertumbuh 216 orang, 2004 bertambah 231 orang, 2005 bertumbuh 259 orang, dan 2007 bertambah jadi 277 orang per tahun. Yang agak istimewa tahun 2006, karena penambahan penderitanya hanya 227 orang. Atau 32 orang lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya. Ini pertumbuhan yang sangat mengerikan. Padahal, upaya pencegahan sudah banyak dilakukan. Tak terkecuali oleh Freeport sendiri dengan cara membagikan kondom gratis secara rutin, membantu pembiayaan kampanye pencegahan HIV/AIDS, dan bahkan membantu pemeriksaan dini bagi mereka yang berperilaku seks menyimpang.
        Dari sebuah surve  Terbaru penyebaran penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Mimika cukup tinggi, sebagaimana data yang diterima dari instansi terkait menunjukkan hingga akhir Juni 2010 telah mencapai 2.302 kasus.
      Demikian diungkapkan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Mimika, Reinold Ubra, sekaligus menambahkan selama periode April hingga Juni tersebut telah terjadi penambahan 110 kasus HIV maupun kasus AIDS baru. "Sebanyak 109 kasus penularan HIV/AIDS terjadi melalui hubungan seksual," jelas Reinold, sabtu (11/12). Sedangkan satu kasus diketahui telah tertular melalui jarum suntik.        Ubra menjelaskan, dari total jumlah kasus HIV/AIDS di Mimika, 75 kasus belum menunjukkan gejala. Hanya 35 kasus yang menunjukkan gejala-gejala. "Namun penyakit mematikan ini lebih banyak terinfeksi pada golongan pekerja tidak tetap, yakni 35 kasus, kemudian disusul dengan kasus HIV/AIDS pada ibu rumah tangga (IRT) sebanyak 34 kasus, sisanya PNS, anggota TNI dan Polri, karyawan swasta, pramuria bar dan satu kasus menimpa seseorang tokoh agama," ungkapnya.      Selama periode April-Juni tersebut, katanya, terdapat dua warga telah meninggal dunia dengan gejala AIDS. Sejak HIV/AIDS pertama kali ditemukan di Mimika pada tahun 1996 hingga Juni 2010, Kantor KPAD Mimika tercatat 113 kasus orang meninggal dunia karena AIDS.       Hingga kini, Hasil VCT (Voluntary Conseling and Testing) di Kabupaten Mimika, kata Reinold, dari 30 orang warga pendulang di Kali Kabur dilaporkan 5 (lima) diantaranya terjangkit HIV positif dan sisanya terjangkit penyakit sifilis.       Menurut Ubra, faktor utama penularan virus HIV di kabupaten Mimika terjadi melalui Infeksi Menular Seksual (IMS) antar warga maupun melalui para Pekerja Seks Komersial (PSK). Lokasi kerawanan terjadinya komersial seks di Mimika yaitu di areal pendulangan emas tepatnya lokasi kali kabur (Mil 38).      Sementara itu, warga setempat di Mile 32 Timika, Diron Benal, mengatakan, di Mil 38 sejumlah lokasi rumah pondok dijadikan tempat lokalisasi oleh oknum tertentu. “Ada beberapa barak tempat perempuan nakal di sana, biasanya mereka masuk setelah tukar dengan emas (hasil pendulangan),” tuturnya.     Pusat lokalisasi di Mimika selain di areal pendulangan,  juga terdapat di Kilometer 10, lokalisasi terbesar di Timika, ke arah jalan Timika-Paomako tempat lokalisasi yang di bilang cukup besar itu mungkin salah satu penyebaran HIV/AIDS, kita sebagai angota masyarakat harus memperhatikan segi keamanan, tidak bisa di pungkiri Sex merupakan kebutuhan pribadi tapi bagemana kita bisa menjaga diri dari penyakit itu.
 Ritorika tukang Ojek di Timika   
Nyanyian klakson mengema dari berbagai penjuru kota timika menjadi nada yang patut di tungu-tungu bagi yang mengunakan jasanya, itu menandai abang Ojek lagi mengais rizky demi anak istrinya, tidak di pungkiri lagi ojek merupakan kendaraan tercepat di kota timika, dia siap mengantar sampai tujuan, yang seakan membawa warna tersendiri bagi kota ini, kota yang katanya kota Dolar itu, membuat ratusan Orang dari berbagai penjuru tanah air datang ke kota ini demi Rupian,menurut pengalaman (Penulis mantan Ojek) memang pertama kalo mau ke timika ya ingin jadi karyawan Freeport, tapi bagemana cari kerja di kota ini sekarang teramat sulit, kerja termudah menurut saya ya jadi tukang Ojek, Cuma modal bisa naik motor dan keberanian saja sudah dapat uang, ini mungkin alasan mengapa banyak tukang Ojek di kota ini, tapi agaknya resiko jadi tukang ojek terlalu besar, dari resiko, kecelakaan, kena tilang dari Polisi,penumpang tidak bayar, di rampok ,sampai terjadi pembunuhan, itu seakan menjadi hal yang wajar, demi mengais rupiah…….hehe!

  Sebagian Anak-Anak Mimika Terancam Masa Depannya
Kalo kita masuk kota timika, tepatnya arah terminal karyawan PT Freeport Indonesia, gorong-gorong terdapat segerombolan anak papua  putus sekolah yang pekerjaannya pencari besi tua, dan kaleng bekas minuman, yang uniknya setelah di teliti hasil menjual kaleng dan besi tua mereka gunakan untuk membeli lem AIbon (lem untuk sandal dan sepatu), dia pake untuk di hisap-hisap sampai mabuk, kadang- kadang kalo malam bikin keributan, dan kadang terjadi perkelahian antar kelompok  (makanya Anak - anak itu di sebut AIBON), sebagai anggota masarakat  kita sangat prihatin bagaimana nasib generasi  muda mimika kedepan, peran pemerintah sangat di harapkan, untuk memberikan penyuluhan atau pengarahan  kepada anak-anak itu bahwa lem itu sangat berbahaya bagi kesehatannya , sehingga dia  bisa sadar tentang prilaku yang menyimpangnya itu.
      Peran pemerintah amatlah penting untuk mengatasi masalah masalah di kabupaten Mimika ini, dari masalah pembangunan- pembangunan, penyakit HIV/AIDS, Anak putus sekolah, perang suku dan lain-lain, SAYA(Penulis) mengharapkan Mimika, aman, damai dan tercipta kerukunan antar umat beragama dan pastinya Terbebas dari penyakit mematikan HIV/AIDS itu, Semoga.Amin,